Halo Sobat Tani, adakah yang tahu saffron? Rempah-rempah yang diperoleh dari bunga kuma-kuma ini sempat ramai dibincangkan banyak orang lho. Meski banyak yang masih asing mendengar jenis rempah-rempah satu ini. Tapi, sebenarnya bagi para penikmat masakan timur tengah mestinya akrab dengan citarasa khasnya. Biar ngga makin penasaran, mari simak ulasan sinautani.com berikut ini.

Mengenal Asal Muasal Saffron

Konon, saffron sudah dikenal lama sejak abad ke-7 SM, sebagai bumbu masakan di timur tengah. Sebelum akhirnya berkembang dimanfaatkan untuk komoditi-komoditi yang lain. Adapun dalam literatur lain yang lebih umum, saffron lebih dikenal berasal dari Yunani, karena sudah sejak dahulu kala dibudidaya disana.

Akan tetapi, bukti arkeologis menunjukkan bahwa saffron berasal dari pegunungan Zargos di Iran, dimana sekitar 1 kilogram saffron digunakan di dapur kerajaan setiap hari. Disebutkan juga saffron termasuk salah satu pewarna tertua di dunia.

Bangsa Sumeria menggunakan saffron sebagai bahan pengobatan dan ramuan ajaib mereka. Saffron adalah barang mewah yang disimpan untuk kaum bangsawan saat itu.

Para raja dan ratu sering memakai parfum saffron dan mandi dalam air saffron untuk menyembuhkan luka serta berdoa kepada dewa-dewa mereka dengan persembahan saffron.

Biksu pada abad pertengahan juga mengenakan saffron untuk dicampur dengan putih telur sebagai bahan glasir kuning yang dapat menggantikan emas dalam produksi naskah mereka.

Persebaran Saffron di Dunia

Bunga kuma-kuma tumbuh di Yunani, photo by Dominik Rešek

Bunga kuma-kuma sendiri hanya tumbuh di daerah-daerah tertentu di beberapa negara, seperti Iran, Pakistan, Spanyol, Yunani dan Italia. Kini, peredaran 80-90 persen saffron di dunia berasal dari Iran dengan total produksi sebanyak 250 ton per tahun.

Wilayahnya yang kering dengan paparan sinar matahari penuh dan curah hujan yang cukup, membuat daerah-daerah pegunungan Iran banyak ditumbuhi bunga kuma-kuma. Terutama Provinsi Khorasan Razavi, wilayah ini dikenal sebagai penghasil saffron kualitas terbaik. Tak ayal bila saffron persia sebutan saffron Iran, dikenal kualitas nomor wahidnya.

Sebutan lain Saffron: Emas Merah

Bernama latin saffron crocus, saffron disebut sebagai raja semua rempah-rempah dengan warnanya yang merah gelap dan aroma khas yang tajam. Mengandung zat picrocrocin, safranal, dan crocin, safron mempunyai warna, rasa, dan aroma yang khas. Tak pelak, banyak orang yang memburu rempah-rempah ini.

Per ponnya, saffron dibanderol harga sebesar 2.000-10.000 dollar AS. Harganya yang mahal, bahkan lebih mahal dari harga logam mulia membuatnya dijuluki emas merah. Di pasar internasional, saffron dengan kualitas terbaik harganya bahkan bisa menembus 950 ribu rupiah per gram atau sekitar 90 jutaan rupiah per kilonya.

Masa Panen Saffron

Biasanya selama setahun, bunga kuma-kuma hanya akan mekar selama 1-6 minggu di musim gugur, tepatnya di sekitar akhir September hingga awal Desember. Dari proses menanam biji hingga tumbuh bunga dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Untuk prosesnya pun masih dilakukan secara tradisional.

Prosesnya yang tradisional dan alami membuat kualitas saffron sangat terjaga. Bahkan, tidak sembarang orang dapat menanam dan memanennya. Apabila cuaca cerah, maka pagi sekali, para petani akan bergegas memanennya dengan memungut benang sari bunga kuma-kuma.

Benangsari yang dipungut akan dipotong-potong, kemudian dikeringkan langsung dibawah terik sinar matahari. Setelah itu, saffron bisa langsung dikonsumsi. Seringnya dari 150 bunga kuma-kuma bila sudah diolah akan menjadi 1 gram saffron.

Ragam Jenis Saffron

Berikut ini jenis-jenis saffron, diantaranya:

  • Sargol: jenis ini dianggap sebagai kualitas terbaik. Warnanya merah gelap, karena memang diambil dari bunga pilihan dengan menyisihkan bagian putih dan orange. Dinamakan sargol secara harfiah adalah “puncak bunga”, menggambarkan keistimewaan saffron jenis ini.
  • Super Negin: tidak hanya dikenal manjur akan khasiatnya, saffron super negin juga memiliki rupa yang estetik. Panjang benangsarinya lebih panjang dari jenis saffron lain pada umumnya serta tidak memiliki benang kuning atau orange.
    Utasnya dipotong secara simetris dan tidak mengandung remah. Sehingga super negin banyak diburu orang karena kualitasnya.
  • Negin: jenis saffron ini hampir sama dengan super negin karena memiliki untaian benangsari yang terhubung bersama. Hanya saja, perbedaan diantara keduanya adalah pada panjang untaian yang mana negin lebih pendek.
  • Pushal/Pushali: jenis ini memiliki tambahan warna kuning. Bagian putihnya dihilangkan, dengan mempertahankan sebagian besar warna merah dan sebagian kecil warna kuning.
  • Bunch: termasuk jenis saffron dengan kualitas rendah. Warnanya lebih didominasi warna kuning.
  • Konge: warnanya kuning, meski memiliki aroma khas saffron, tetapi jenis ini tidak memiliki kemampuan mewarnai.

Manfaat Saffron

Bunga kuma-kuma yang sudah diolah jadi saffron, photo by Mohammad Amiri

Mulai zaman Yunani kuno, India, dan China, saffron sudah masyhur akan manfaatnya, sehingga dimanfaatkan oleh orang-orang pada zaman itu untuk parfum, pewarna makanan, dan ramuan obat. Bahkan hingga sekarang, saffron juga sudah dikembangkan  ke banyak hal, semisal bahan kosmetik, obat-obatan, dan bumbu penyedap rasa.

Dalam jurnal yang dirilis NCBI (National Center for Biotechnology Information) berjudul “The Effect of Crocus sativus (saffron) and its constituents on nervous system: A review”, disebutkan saffron telah banyak digunakan sebagai tanaman obat untuk meningkatkan kesehatan manusia, terutama di Asia.

Safron telah disarankan untuk efektif dalam pengobatan berbagai gangguan termasuk penyakit arteri koroner, hipertensi, gangguan lambung, dismenore dan gangguan belajar dan memori. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa saffron memiliki aktivitas antiinflamasi, anti aterosklerotik, antigenotoksik, dan sitotoksik.

Efek antitusif dari stigma dan kelopak saffron beserta komponennya, safranal dan crocin juga telah dibuktikan. Sifat antikonvulsan dan anti-Alzheimer dari ekstrak saffron ditunjukkan dalam penelitian pada manusia dan hewan. Kemanjuran saffron dalam pengobatan depresi ringan hingga sedang juga dilaporkan dalam uji klinis.

Dalam tinjauan literatur jurnal tersebut juga menunjukkan bahwa saffron dan komponennya dapat mengobati gangguan sistem saraf.  Pemberian saffron sesuai dosis pada penderita, akan meningkatkan kadar glutamat dan dopamin di otak.

Penutup

Demikian itulah ulasan mengenai saffron yang kaya akan manfaat. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Sobat Tani ya.

---------------------

Tulisan Terkait

This post was last modified on September 15, 2020 11:03 am