Budidaya jangkrik itu gampang lho, masa sih?

By | Februari 1, 2020
kandang jangkrik

Halo sobat tani, pasti sudah pada tau jangkrik kan? Hewan satu ini masih mudah kita temukan di sekitar kita. Serangga ini memiliki ciri khas pada derikan suaranya. Apalagi kalau kita pergi ke kebun menjelang petang, biasanya suara derikan jangkrik akan terdengar nyaring saling bersautan. Kali ini, sinautani.com ingin berbagi seputar jangkrik dari sisi budidayanya. Tapi, apakah budidaya jangkrik itu susah? Mending baca dulu tulisan berikut ini, cara mudah budidaya jangkrik.

Perkembangan Jangkrik

Saat ini, permintaan jangkrik tengah meningkat lho. Banyak orang yang membutuhkannya sebagai pakan hewan ternak, seperti burung, ikan arwana, reptil, dan lain-lain. Sehingga banyak orang yang tertarik untuk membudidayakannya.

Hewan dengan nama latin Gryllus Sp termasuk dalam keluarga Gryllidae. Berdasarkan catatan penelitian,  jumlah spesies jangkrik lebih dari 1000 spesies di daerah tropis. Di Indonesia sendiri sudah 100 lebih spesies jangkrik ditemukan. Hanya saja semua spesies itu belum terpetakan secara lengkap.

Adapun jenis spesies Gryllus mitratus dan Gryllus testaclus adalah jenis jangkrik yang banyak dibudidaya untuk tujuan komersial. Selain dua jenis itu, ada banyak jenis jangkrik yang dipelihara untuk tujuan lain, seperti untuk aduan atau sekedar hobi.

Jangkrik termasuk ke dalam jenis hewan herbivora karena ia hanya memakan sayur-sayuran, seperti daun-daun muda dan rerumputan. Tetapi untuk budidaya, jangkrik dapat diberi pakan sayuran hijau yang memiliki kandungan air yang banyak, semisal bayam, sawi, selada, daun pepaya, dan mentimun.

budidaya jangkrik

Tips Budidaya Jangkrik

Sebelum memulai budidaya, persiapkan terlebih dahulu kandang jangkrik. Kandang dapat dibuat dari berbagai baham, seperti kardus, triplek dan lain-lain. Yang terpenting dari kandang jangkrik ialah tidak terkena sinar matahari langsung dan terjaga dari hama, seperti semut.

Nah, berikut ini cara mudah budidaya jangkrik:

  1. Mempersiapkan bibit jangkrik

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, bibit jangkrik yang biasa diternakan dari jenis Gryllus mitratus dan Gryllus testaclus. Untuk mendapatkannya dapat dibeli di toko pakan yang menjual pakan hidup. Selain kedua jenis itu, jenis jangkrik lain juga bisa dibudidaya, tetapi terkadang spesies yang lain perkembangbiakkannya sulit atau lama.

Sebaiknya, bibit atau indukan jangkrik untuk budidaya didapat dari tangkapan alam. Jika sulit, dapat juga bibit jantan yang didapat dari tangkapan alam. Sebab, jangkrik indukan atau jantan yang berasal dari tangkapan alam biasanya akan lebih agresif. Untuk memebedakan indukan yang bagus atau tidak, berikut ciri-cirinya:

  1. Memiliki sungut atau antena yang masih panjang.
  2. Seluruh anggota badannya masih lengkap.
  3. Dapat melompat jauh dan gesit.
  4. Memiliki badan berwarna mengkilap.
  5. Jika dipegang tidak mengeluarkan cairan dari mulut maupun duburnya.
  6. Induk jantan mampu berderik dengan
  7. Permukaan punggung atau sayapnya kasar dan bergelombang.

Adapun untuk membedakan jangkrik betina dan jantan dapat dilihat dari ekornya. Ekor jangkrik jantan hanya dua helai saja sedangkan jangkrik betina memiliki tiga helai dengan ekor bagian tengah berukuran besar. Ekor bagian tengah tersebut sebenarnya adalah ovipositor.

  1. Menjaga kelembaban dan ketersediaan makanan dalam kandang

Kandang jangkrik harus dijaga kondisinya dengan memperhatikan tingkat kelembaban dan ancaman hama. Kelembaban harus selalu dikontrol, terlebih bila sedang musim kemarau. Untuk menjaganya dapat dilakukan penyemprotan atau menutup kandang menggunakan karung goni basah.

Hama jangkrik sendiri tergolong banyak jenisnya, seperti tikus, kecoa, semut, laba-laba dan lain-lain. Bahkan, bila ketersediaan makanan untuk jangkrik dalam kandang tidak mencukupi, maka jangkrik bisa menjadi kanibal, memangsa sesamanya.

pakan jangkrik

pakan jangkrik

  1. Mengawinkan antar jangkrik

Sebaiknya tempat untuk mengawinkan jangkrik ditempatkan terpisah dari tempat pembesaran anakan. Selain itu, kondisi kandang untuk mengawinkan tersebut diusahakan dibuat mirip dengan habitat asli jangkrik di alam. Semisal mengolesi dinding kandang dengan semen putih dan tanah liat serta dedaunan kering, seperti daun pisang, daun jati, dan serutan kayu.

Dalam mengawinkan, jangkrik jantan dan betina haru berasal dari spesies yang sama. Jika keduanya tidak berasal dari spesies yang sama maka tidak akan terjadi perkawinan. Untuk berlangsungnya perkawinan tempatkan indukan jantan dan betina dengan perbandingan 2:10.

Sediakan tanah atau pasir dalam bak sebagai tempat peneluran di dalam kandang. Selama perkawinan berlangsung jangkrik jantan berderik terus menerus dengan kencang. Jangkrik betina yang telah dibuahi akan bertelur dan biasanya meletakkan telurnya dalam tanah atau pasir.

Di samping itu, selama masa perkawinan jangkrik pasokan pakan untuk jangkrik harus terkontrol. Pakan tersebut bisa dengan sawi, kubis, bayam, kangkung, daun pepaya dan jenis sayuran hijau lainnya. Setiap hari jika pakan tersisa, segera buang. Jangan sampai sisa pakan tersebut membusuk di dalam kandang.

Bahkan, beberapa peternak meracik ramuan khusus untuk jangkrik yang dikawinkan. Semisal, bekatul, kuning telur bebek rebus yang dihaluskan, tepung ikan, dan beberapa vitamin. Menurut pengalaman para peternak tersebut, ramuan khusus tersebut mampu mempengaruhi hasil telur yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus dan banyak.

  1. Menetaskan telur jangkrik

Setelah 7-10 hari sejak perkawinan, telur jangkrik akan menetas. Sebelum telur menetas, pisahkan telur-telur tersebut, maksimal 5 hari setelah induk betina bertelur. Sebab, induknya dapat memakan telurnya sendiri. Selanjutnya, pindahkan telur-telur tersebut ke dalam kandang penetasan telur. Warna telur nantinya akan berubah dari bening menjadi keruh. Telur baru akan menetas setelah 4-6 hari.

Selama masa penetasan, kelembaban kandang harus selalu dijaga dengan menyemprot air atau menutup kandang menggunakan karung goni basah.

  1. Memberikan pakan rutin

Segera setelah telur menetas, jangkrik harus diberi pakan. Jangkrik yang baru berumur 1-10 hari diberi pakan ayam (voor), yang berasal dari olahan beras merah, jagung kering, dan kacang kedelai yang sudah dihaluskan. Selanjutnya bila sudah lebih dari 10 hari, anakan jangkring bisa diberi makan jagung muda dan sayur-sayuran. Bisa juga ditambahkan mentimun, ubi, atau singkong.

  1. Memelihara kandang jangkrik

Pastikan kandang jangkrik harus selalu higienis dan bersih, serta aman dari gangguan hama. Kondisi kandang juga dijaga kelembaban dan kegelapannya. Selain itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ketersediaan pangan dalam kandang harus mencukupi karena jika kekurangan jangkrik akan kanibal, saling memangsa sesamanya.

Setiap harinya buanglah pakan yang tersisa agar tidak membusuk di dalam kandang. Sebelum dipakai, kandang yang baru dibuat dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan bau vinil jika kandang berbahan tripleks. Adapun cara mencucinya dengan melumuri permukaan kandang mengenakan lumpur sawah kemudian dijemur hingga kering.

Air pada mangkuk atau kaleng pada tiap kaki-kaki kandang harus selalu diperiksa secara rutin. Tambahkan air jika cairan sudah sedikit. Selain air, dapat juga menggunakan minyak tanah, atau jenis cairan lainnya yang dapat mencegah hama ke kandang jangkrik.

bentuk konstruksi kandang jangkrik

bentuk konstruksi kandang jangkrik

  1. Memanen jangkrik

Memanen jangkrik bisa berarti memanen jangkrik dewasa ataupun telurnya. Dari segi harga, telur jangkrik biasanya lebih mahal harganya ketimbang jangkrik dewasa. Sebab, telur jangkrik biasanya dicari para peternak pembesaran jangkrik. Adapun untuk memanen jangkrik dewasa dapat dilakukan setelah jangkrik menginjak umur lebih dari 30 hari sejak telur menetas.

Dilihat dari runtutan caranya ternyata budidaya jangkrik bisa dilakukan oleh siapa saja ya. Apalagi untuk proses peneluran hingga pemanennya tidak membutuhkan waktu yang lama. Jadi, apakah sobat tani tertarik untuk mencobanya? Jika sobat tani tertarik, selamat mencobanya dan semoga berhasil ya. Tetap semangat dan tekun, karena proses budidaya tidaklah instan. Salam sobat tani!

 

---------------------

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *