Lompat ke konten

Daya Saing Komoditas Vanilla Indonesia di Dunia

Vanili (Vanilla planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditas ekspor rempah yang penting bagi peningkatan devisa negara. Vanili merupakan salah satu spesies dari famili Orchidaceae (Bhai dan Thomas, 2000) yang buahnya bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan campuran makanan dan minuman (Rosman et al. 1989).  Luas areal tanaman vanili di Indonesia pada tahun 1983 hanya 3.786 hektar dengan produksi 617 ton, meningkat menjadi 31.887 hektar dengan produksi 3.182 ton pada tahun 2008 dan tahun 2013 menurun menjadi 19.920 hektar dengan produksi 3.066 ton (Ditjenbun, 2013). Sebagian besar produksi vanili Indonesia ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Ekspor vanili pada tahun 2012 mencapai  278 ton  dengan nilai lebih dari US $ 5367000 (Ditjenbun, 2009; Ditjenbun 2013).

Saat ini, tanaman vanili tersebar di 25 propinsi di Indonesia dengan tingkat produktivitas 441 kg/ha dan dikelola oleh 288.535 kepala keluarga petani. Luas areal dan produksi terbesar ditempati oleh Propinsi Aceh mencapai yaitu 38.094 hektar dengan produksi nya 12.117 ton (Ditjenbun, 2014).  Keberhasilan dalam penanaman vanili tergantung dari teknik budidaya yang dilakukan. Teknologi budidaya yang benar adalah penanaman di lokasi yang sesuai, penggunaan varietas unggul, teknik penanaman dan pemeliharaan hingga panen dan pasca panen yang benar. Mengingat posisi vanila Indonesia yang saat ini termasuk negara kedua di dunia, penghasil vanila setelah Madagaskar, tentunya harus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan.

Pengembangan vanila akan berhasil dengan baik bila didukung oleh teknologi yang baik pula. Teknologi yang mendukung pengembangan vanila telah banyak dihasilkan namun belum sepenuhnya diadopsi oleh petani didalam pengusahaan tanaman ini.   Vanila merupakan tanaman asli Mexico yang masuk ke Eropa pada tahun 1721 (Rosmeilisa et al., 1987). Tanaman vanila baru masuk ke Indonesia pada tahun 1819 dan mula-mula berkembang di Jawa Barat, Lampung, Bali  dan terus menyebar ke berbagai propinsi di Indonesia. Vanila Jawa sebelum perang dunia II cukup dikenal di pasaran dunia karena mutunya cukup baik (Rosman dan Rusli 1989).

Pada tahun 2015, sector non migas berkontribusi terhadap nilai ekspor sebesar 131.791 juta dollar USD, meningkat pada tahun 2018 sebesar 162.840 juta dollar USD. Sector non migas ini salah satunya adalah subsector pertanian yang meliputi tanaman semusim, tahunan, tanaman hias, peternakan dan perikanan. Berdasarkan data BPS tahun 2021, pada kurun waktu 2015 – 2019 rata-rata nilai ekspor pada tanaman tahunan adalah sebesar 2.333,38 juta dollar USD, jauh melampaui subsector lainnya. Menurut Chandrayani et al. (2016), komoditas vanilli merupakan salah satu komoditas rempah potensial yang bernilai jual ekspor. Dilansir dari data UN Comtrade tahun 2021, selama kurun waktu 2010 – 2019, Indonesia mengekspor vanilli sebanyak 3.167 ton dengan nilai ekspor sebesar 354 juta dollar USD, sehingga Indonesia menempati posisi ke-4 negara eksportir vanili terbesar di dunia. Hal ini berbanding terbalik dengan data impor vanilla Indonesia selama 2010 – 2019 hanya sebesar 782 ton, dengan nilai sebesar 27,67 juta dollar USD. Potensi nilai ekspor ini menunjukan bahwa Indonesia sebenarnya siap bersaing dengan negara lain dalam ekspor komoditas rempah, terutama vanilla.

Dalam rangka pencapaian target ekspor yang terus meningkat, sangat penting untuk mengatahui daya saing suatu komoditas. Menurut Marina (2016) daya saing menjadi indicator keberhasilan negara dalam perdangangan internasional, yang mana hal tersebut menunjukan kemampuan suatu komoditas untuk masuk ke pasar internasiondal dan bertahan diantara pesaing. Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Pertanian tahun 2022, sentra produksi vanilla periode 2010 – 2019 berada di Provinsi Jawa Timur dengan volume produksi 5.659 ton, Provinsi Jawa Barat dengan volume produksi 1.543 ton, sedangkan di luar pulau jawa, Provinsi NTT memiliki volume produksi terbesar yaitu 4.160 ton, Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 2.087 ton yang diikuti Provinsi Sulawesi Utara sebesar 1.850 ton.

 

Jepang Sebagai Salah Satu Negara Tujuan Ekspor Vanila

Jepang merupakan salah satu pasar utama vanilla global, dimana negara ini merupakan importir ke-9 produk vanilla di dunia dengan potensi pasar mencapai 1,81% dari total impor dunia. Penggunaan vanilla di pasar Jepang bervariasi, baik dari sector makanan, minuman, hingga produk kecantikan. Impor vanilla Jepang Sebagian besar diimpor dalam bentuk vanilla, neither crushed nor ground (HS 090510) dengan pangsa pasar sebesar 90,70% dari total impor vanilla Jepang. Pada tahun 2020, Madagaskar menguasai setidaknya 94% pasar vanilla di Jepang, dimana posisi Indonesia berada pada peringkat ke-5 yaitu berkisar antara 1% – 1,5% penguasaan pasar di Jepang. Produk rempah-rempah termasuk vanilla masuk ke pasar Jepang melalui perusahaan dagang (trading company) dan importir. Hal yang cukup menyenangkan adalah tarif bea masuk impor yang dikenakan Pemerintah Jepang untuk produk vanilla asal Indonesia adalah 0% dan hal ini memang juga berlaku pada beberapa negara pemasok lainnya.

Secara global, vanilla telah menjadi salah satu rasa yang paling diminati dan banyak digunakan pada berbagai sector industry, seperti makanan, minuman dan kosmetik di Jepang. Sektor makanan dan minuman masih mendominasi pasar produk vanilla dan menjadi contributor utama pertumbuhan pasar secara global. Berdasarkan data Statista tahun 2021, es krim rasa vanilla merupakan rasa yang paling diminati oleh masyarakat Jepang sebesar 28,3%, diikuti soda sebesar 14,4%, coklat 12,9%. Apabila melihat struktur pasar produk vanilla di Jepang, pada kategori HS 0905 Jepang, selama 5 tahun terakhir mengalami tren kenaikan sebesar 2,2% per tahun, kenaikan ini pun sejalan dengan kenaikan sebesar 0,99% per tahun di dunia. Permintaan impor vanilla Jepang mengalami kenaikan 24,1% pada kinerja 10 tahun terakhir. Kenaikan paling tinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 181,3% YoY atau sekitar USD 35,7 juta. Nilai impor vanilla Jepang tertinggi terjadi pada tahun 2018 sebesar USD 38,4 juta. Namun terjadi penurunan permintaan impor pada tahun  2019 dengan rata-rata penuruna sebesar 35,3% per tahun. Penurunan ini disebabkan oleh kelangkaan pasokan vanilla dunia salaam beberapa tahun terakhir.

 

Daya saing produk vanilla dari Indonesia

            Secara umum, Indonesia masih berat untuk bersaing dengan Madagaskar. Namun Indonesia masih cukup kompetitif dan dapat bersaing dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Papua Nugini dan French Polynesia. Meskipun demikian Indonesia mesti mewaspadai kinerja ekspor dari Amerika Serikat yang mana negara ini baru masuk ke pasar vanilla Jepang sejak tahun 2013 namun mampu menjadi negara pesaing utama selain Madagaskar.

Apabila melihat perkembangan impor pada periode Januari – Mei 2021, nilai impor vanilla Jepang mengalami kenaikan hanya dari negara Amerika Serikat sebesar 91% dan French Polynesia sebesar 100% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebaliknya impor dari Madagaskar, Papua Nugini dan Indonesia malah mengalami penurunan. Madagarkar mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 47,1%. Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 60,8% pada periode tersebut.

Dari segi harga impor produk vanilla daari Indonesia relative rendah atau memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan 3 negara pesaing utama lainnya. Harga impor vanilla Jepang dari Indonesia di tahun 2020 mencapai USD 133/kg. Harga dari Indonesia lebih rendah jika dibandingkan dengan Madagaskar sebesar USD 360/kg, Amerika Serikat sebesar USD 216/kg dan Papua Nugini sebesar USD 208/kg. Jika dilihat dari sisi pasokan produk vanilla Indonesia yang didekati dengan kinerja eksportnya, ekspor Indonesia ke dunia di tahun 2020 mencapai USD 60,2 juta. Kinerja ekspor tersebut turun jika dibandingkan dengan periode tahun 2019 yang mencapai USD 69,6 juta (turun sekitar 13,4 YoY). Volume ekspor produk vanilla Indonesia tahun 2019 sebesar 261 MT, naik menjadi 363 MT pada tahun 2020, namun kenaikan tersebut tidak diikuti oleh kenaikan nilai ekspornya. Hal ini diindikasikan bahwa telah terjadi penurunan harga unit ekspor produk vanilla Indonesia.

 

Berbeda dengan tren pertumbuhan ekspor vanila Indonesia ke dunia yang mengalami tren pertumbuhan positif, ekspor produk vanila Indonesia ke Jepang selama 10 (sepuluh) tahun terakhir menunjukkan fluktuasi dan cenderung mengalami tren penurunan. Selama periode 2016-2020, ekspor vanila Indonesia turun sebesar 1,2% per tahun. Meskipun secara rata-rata mengalami penurunan, namun ekspor vanila Indonesia ke Jepang di tahun 2020 mencatatkan pertumbuhan signifikan. Di tahun 2020, nilai ekspor vanila Indonesia mencapai USD 109,0 ribu. Nilai tersebut naik sebesar 419.0% jika dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 2019.

Dengan memperhatikan struktur negara tujuan ekspor vanilla Indonesia tersebut, terdapat beberapa indikasi kesimpulan yang perlu menjadi perhatian, khususnya dalam meningkatkan pangsa pasar vanila di Jepang. Sejak tahun 2011, vanila Indonesia, sebagian besar diekspor ke Amerika dan Eropa, dimana Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda selalu menjadi 5 negara tujuan ekspor utama produk vanilla Indonesia. Selanjutnya di tahun 2020, Kanada dan Polandia bergabung ke dalam 5 besar negara tujuan ekspor utama Indonesia. Pada tahun 2011, Indonesia tidak tercatat melakukan ekspor vanila ke Kanada. Ekspor vanila ke Kanada sendiri tercatat baru dilakukan sejak tahun 2015, dan menjadi negara tujuan ekspor utama

ke-2 di tahun 2020 dengan pangsa sebesar 6,8%. Di pasar Eropa, Jerman menjadi negara tujuan utama ekspor vanila Indonesia. Pada tahun 2011, Jerman berperan dalam 5,4% pangsa ekspor vanila Indonesia, dan pangsanya meningkat menjadi 6,4% di tahun 2020. Posisi Jerman diikuti oleh Belanda di posisi ke 4 dan Polandia di posisi ke 5 dengan pangsa pasar sebesar 4,4% dan 3,0% secara berturut-turut.   Selain itu, Amerika Serikat yang juga menjadi pesaing utama produk vanilla Indonesia di pasar Jepang, justru menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia. Hal ini dapat menjadi indikasi awal bahwa produk vanila yang diimpor Jepang dari Amerika Serikat berasal dari Indonesia. Dengan kata lain, ekspor produk vanilla Indonesia terdapat kemungkinan tidak diekspor secara langsung ke Jepang namun juga diekspor melalui transit negara ke-3 yaitu Amerika Serikat baik melalui pengolahan lebih lanjut atau tidak.

 

Dennis Wara H

Magister Agribisnis UMM Malang


Baca juga :