Di banyak lahan kecil, ternak dan tanaman tumbuh berdampingan. Jerami padi menjadi pakan, kotoran kambing menjadi pupuk, dan sisa panen kembali ke kandang. Pola ini sudah lama dipakai, tetapi sering dijalankan tanpa perencanaan sehingga manfaatnya tidak maksimal.
Integrasi ternak dan tanaman bertujuan menutup siklus: tanaman menghasilkan pakan, ternak menghasilkan pupuk, dan pupuk menyuburkan tanaman. Kalau satu bagian terlalu besar atau terlalu kecil, siklus itu pincang.
Pakan dari sisa tanaman
Jerami padi, batang jagung, daun ubi, dan sisa sayuran bisa menjadi pakan, tetapi kualitasnya berbeda. Jerami kering rendah protein dan sulit dicerna. Untuk meningkatkan kualitasnya, jerami bisa difermentasi atau dicampur dengan konsentrat dan legum.
Jangan memberi sisa tanaman yang sudah berjamur atau tercemar pestisida. Simpan bahan pakan di tempat kering agar tidak membusuk. Kebutuhan pakan setiap hari harus dihitung agar tidak kekurangan di musim paceklik.
Pupuk dari kandang
Kotoran ternak mengandung hara yang dibutuhkan tanaman, tetapi pupuk kandang segar belum siap dipakai. Proses fermentasi atau pengomposan membantu menurunkan suhu, mengurangi bau, dan membunuh sebagian patogen. Pupuk yang matang berwarna lebih gelap, tidak berbau menyengat, dan suhunya tidak panas.
Aplikasikan pupuk kandang sesuai kebutuhan tanaman. Dosis berlebihan bisa mencemari air dan mengganggu pertumbuhan. Campurkan dengan tanah atau bahan organik lain, lalu beri waktu sebelum tanam.
Menentukan skala
Jumlah ternak harus disesuaikan dengan luas lahan dan ketersediaan pakan. Terlalu banyak ternak membuat pakan habis lebih cepat dan limbah menumpuk. Terlalu sedikit membuat pupuk yang dihasilkan tidak cukup untuk lahan.
Hitung kebutuhan pakan per hari, produksi kotoran, dan luas lahan yang akan dipupuk. Angka ini bisa berubah setelah satu musim. Catat hasilnya agar keputusan berikutnya lebih tepat.
Tenaga kerja dan waktu
Integrasi menambah pekerjaan: mencari pakan, mengangkut kotoran, mengomposkan, dan mengangkut pupuk ke lahan. Kalau dikerjakan sendiri, waktu ini harus dihitung. Jika memakai tenaga kerja, biayanya masuk ke perhitungan usaha.
Pilih pola yang paling sederhana untuk dimulai. Misalnya, beberapa ekor kambing yang dipelihara dengan hijauan dari lahan sendiri, lalu kotorannya dipakai untuk tanaman pangan. Setelah pola itu berjalan, baru pertimbangkan menambah skala.
Risiko yang perlu dijaga
Ternak bisa merusak tanaman jika dilepas tanpa pagar. Kotoran yang belum matang bisa membawa bibit penyakit atau gulma. Pakan yang tercemar bisa membahayakan hewan. Air limbah kandang harus diarahkan menjauh dari sumur dan saluran air bersih.
Pantau kesehatan hewan dan tanaman secara rutin. Jika ada masalah, telusuri dari hulu: pakan, air, kandang, atau tanah. Jangan menambah input kimia sebelum tahu penyebabnya.
Untuk memperdalam budidaya ternak dan pemanfaatan limbah, Sinauternak membahas pakan, kesehatan, dan pengelolaan kandang. Integrasi yang direncanakan dengan baik membuat lahan kecil bekerja lebih dari satu kali.
