Cara Pembuatan Silase, Pakan Ternak Alternatif di Musim Kemarau

silase pakan ternak

Pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan diserap seluruhnya atau sebagian tanpa menimbulkan keracunan atau mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Dalam manajemen ternak, pakan memiliki kebutuhan yang paling tinggi, yakni sekitar 60-70% dari seluruh biaya produksi. Pada saat musim hujan pakan ternak tersedia secara berlebih, hal ini harus dimanfaatkan oleh peternak untuk menyediakan pakan pada saat musim kemarau, sehingga dibutuhkan teknologi untuk mengawetkan pakan ternak agar selalu tersedia di sepanjang tahun. Salah satu teknologi pengawetan bahan pakan yang sudah umum diketahui yakni silase.

Apa itu Silase?

Silase adalah salah satu cara pengawetan pakan hijauan ternak segar yang disimpan dalam wadah tertutup atau silo dan sudah terjadi proses fermentasi dalam keadaan tanpa udara atau anaerob. Silase umumnya dibuat dari tanaman rerumputan, termasuk juga jagung, dan serealia lainnya dengan memanfaatkan seluruh bagian tanaman. Tujuan pembuatan silase adalah untuk mempertahankan kualitas nutrisi pakan dalam waktu yang lama, sebagai persediaan pakan saat musim kemarau, dan sebagai sarana untuk memanfaatkan kelebihan produksi hijauan pada saat pertumbuhan terbaik. Proses pembuatan silase tidak memerlukan pengeringan sehingga dapat meminimalkan kerusakan zat atau nutrisi pada makanan akibat pemanasan. Silase juga mengandung sejumlah asam organik yang dapat membantu menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen atau perut sapi.

Cara Pembuatan Silase

Alat dan bahan yang perlu disiapkan untuk pembuatan silase yakni:

  • Rumput hijauan 30 kg
  • Tetes tebu atau molases 500 ml
  • Dedak 3 kg (10% dari 30 kg jerami)
  • Em4 20 ml (2 tutup botol)
  • Air secukupnya
  • Parang atau mesin chopper
  • Drum atau kantong plastik untuk silo

Cara pembuatan:

  1. Potong rumput hijauan tersebut dengan ukuran 3-5 cm dengan menggunakan parang atau mesin chopper. Tujuannya agar rumput yang dimasukan kedalam silo dalam keadaan rapat dan padat sehingga tidak ada oksigen yang masuk.
  2. Campurkan rumput hijauan dengan dedak.
  3. Setelah hijauan dan dedak tercampur, masukkan ke dalam silo sekaligus dipadatkan. Pemadatan ini harus dilakukan sebaik-baiknya dengan cara diinjak atau menggunakan alat pemadat. Tujuannya untuk mengurangi kadar udara (oksigen) di dalam silo sehingga kondisi anaerob dapat dicapai secepat mungkin.
  4. Encerkan EM4 menggunakan air dengan perbandingan 1 : 4. Campurkan juga tetes debu atau molases secukupnya. Total penggunaan starter maksimal 3% dari berat hijauan yang akan diawetkan. Pemberian starter dilakukan secara bertahap dan berlapis. Taburkan atau siram dengan starter setiap ketetebalan 20 cm secara merata.
  5. Kemudian tutup rapat silo dan beri pemberat seperti batu.
  6. Disimpan selama tiga minggu pada suhu ruangan dan tidak tembus cahaya.

Jika pembuatan silase sudah benar maka akan dihasilkan silase yang baik dan berkualitas. Ciri-ciri silase yang baik yakni, beraroma dan berasa masam, tidak berjamur, tidak berbau busuk, serta berwarna hijau kekuning-kuningan. Apabila dipegang silase yang baik akan terasa lembut, empuk tetapi tidak basah (berlendir), tidak menggumpal, tidak berjamur, dan kadar keasamannya (pH) 3,2-4,5.

Cara Penggunaan Silase Untuk Pakan Ternak

Pembukaan silo harus dilakukan dengan hati-hati, karena dalam proses ensilase akan terbentuk asam organik (CO2 dan NO3) ketika bertemu dengan gas NO2 akan sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia. Setelah silo dilepas, silo harus ditutup kembali untuk menghindari kerusakan atau pembusukan. Silase yang baru dibuka sebaiknya tidak boleh langsung diberikan pada ternak, harus diangin-anginkan atau dijemur terlebih dahulu. Misalnya, pemberian silase pada sapi. Sebelum diberi pakan silase, mereka harus diberi makan jerami atau rumput kering (hay) terlebih dahulu. Hal ini untuk mencegah mencret atau kembung pada sapi. Pemberian silase dilakukan sedikit demi sedikit agar ternak dapat beradaptasi dengan pakan baru. Berikan silase kepada sapi sesuai dengan berat badan. Dalam keadaan normal, kisaran yang diberikan adalah 10-20 kg/ekor per hari, tidak melebihi 60% dari jumlah hijauan yang diberikan.

Kelebihan silase yaitu lebih disukai ternak dibandingkan pengawetan dengan cara kering dan masa simpan silase yang cukup lama sekitar 3-4 minggu (masa fermentasi) hingga 8 minggu tanpa mengalami kerusakan bahan kering dan bahan organik. Beberapa literatur menyatakan silase bisa disimpan hingga 2-3 tahun apabila dalam pembuatannya baik dan benar serta silo atau drum plastik tempat penyimpanannya tidak mengalami kebocoran sehingga tetap berada dalam keadaan kedap udara. Namun silase juga memiliki kekurangan yakni, silase memerlukan alat pemotong hijauan (mesin chopper), tempat penyimpanan (silo) dan zat tambahan yang dapat meningkatkan biaya pakan.


Baca juga :