Halo Sobat Tani, pernah mendengar aquaponik? Inovasi baru dalam dunia pertanian, budidaya tanaman sambil budidaya ikan. Metode budidaya ini diyakini lebih aman dari penggunaan bahan-bahan kimia dibanding pertanian konvensional, hidroponik, ataupun resirkulasi akuakultur . Di Indonesia sendiri, aquaponik juga masih dianggap baru. Tertarik untuk mengulasnya? Simak tulisan sinautani.com berikut ini.

Latar Belakang Aquaponik

Selain memecahkan banyak masalah berbasis tanah, ternyata hidroponik juga menimbulkan masalah baru, seperti penyakit “pythium” atau akar busuk, mahalnya harga nutrisi, dan nutrisi dalam jumlah yang berlebih malah menjadi racun bagi tanaman.

Sedangkan RAS (Recirculating Aquaculture Systems), sistem budidaya ikan yang dipakai pada umumnya. Dengan menyaring dan menggunakan kembali air kolam ikan, ternyata juga memiliki permasalahan. Misalnya, limbah kotoran ikan yang mengandung amonia konsentrat tinggi mencemari air kolam. Meskipun metode ini juga mampu mengatasi konservasi air.

Nah, aquaponik mengadaptasi kedua budidaya tersebut. memadukan manfaat kedua budidaya tersebut serta meminimalisir kelemahan keduanya.

Pengertian Aquaponik

Aquaponik termasuk ke dalam pertanian berkelanjutan karena mengintegrasikan pemeliharaan ikan resirkulasi akuakultur dengan penanaman sayur hidroponik. Metode ini diadaptasi dari ekosistem alami yang diterapkan dalam ruangan (indoor).

Air yang kaya nutrisi dari kolam ikan, akan mengairi tanaman sekaligus menjadi pupuk alami. Sedangkan tanaman akan memurnikan air tersebut untuk ikan. Oleh karena itu, metode ini tidak membutuhkan banyak air, tanah, maupun tenaga dibandingkan cara konvensional dalam budidaya tanaman dan ikan.

Perkembangan Aquaponik

Aquaponik kini populer di banyak kalangan, baik petani, pengusaha, pendidik, pemerintah, ataupun yang lainnya. Sebab, metode ini dapat digunakan untuk budidaya ikan dan sayuran segar secara berkelanjutan. Produktivitas yang diperoleh dengan metode ini juga cukup tinggi.

Dalam penerapannya, menanam dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, baik di dalam ruangan maupun tempat yang tidak luas, serta aman dari penggunaan pestisida, herbisida, dan pupuk kimia.

Manfaat Aquaponik

Aquaponik memiliki banyak manfaat, baik dari segi ekonomi, lingkungan, dan lainnya. Berikut ini, sinautani.com merangkumnya:

  • Dapat untuk budidaya tanaman dan ikan dalam kapasitas besar tergantung penataan kolam dan wadah tanaman.
  • Dilakukan dengan siklus biologi alami, mutu kualitas tanaman dan ikan tetap terjaga kesegaran dan kandungan gizinya.
  • Dalam perkembangannya, metode ini banyak dilirik pelaku bisnis, karena mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta ramah lingkungan.
  • Kualitas tanaman dan ikan yang dihasilkan juga lebih baik sehingga banyak diburu konsumen.

Keunggulan Aquaponik

Tanah sejatinya merupakan sumber daya alam yang luar biasa. Akan tetapi, tidak sedikit penyakit tanaman yang ditularkan lewatnya. Maka, dengan budidaya aquaponik, tanaman menjadi terhindar dari berbagai penyakit tersebut. Selain itu, menanam dengan tanah juga membutuhkan waktu yang lama.

Dibandingkan pertanian konvensional dan hidroponik, aquaponik lebih hemat dalam penggunaan air. Setidaknya air kolam dapat digunakan hingga 8 kali lebih untuk penanaman tanaman. Dengan catatan, kebersihan air juga tetap harus dijaga, tidak dibiarkan begitu saja.

Budidaya tanaman dengan aquaponik juga tidak memerlukan pemupukan. Sebab, pupuk untuk tanaman sudah didapat dari limbah ikan. Ditambah lagi, cara ini tentunya akan meminimalisr pemakaian bahan-bahan kimia seperti pupuk buatan. Apalagi pestisida, herbisida, antibiotik, dan lain-lain.

Menciptakan Ekosistem Alami

Proses pembuatan ekosistem alami aquaponik

Pada dasarnya, budidaya aquaponik menciptakan ekosistem alami dalam ruangan. Karenanya, budidaya ini tetap bergantung pada bakteri untuk mengkonversi amonia dan limbah padat ikan. Hasil konversi tersebut menjadi bahan untuk makanan nabati lengkap bagi tanaman. Dan pastinya, proses tersebut berlangsung secara organik.

Dalam aquaponik, penggunaan pestisida pada tanaman akan berdampak buruk bagi ikan. Sebaliknya, apabila hormon pertumbuhan dan antibiotik diberikan ke ikan, juga akan merusak tanaman.

Oleh karena itu, pengelolaan ekosistem secara keseluruhan, membuat satu input berinteraksi dengan semua yang ada dalam sistem. Sehingga, keseimbangan nitrogen alami menjadi capaian budidaya aquaponik untuk sistem ekosistem yang mapan.

Beberapa Metode Aquaponik

Seiring berjalannya waktu, aquaponik juga mengalami pengembangan. Berikut ini beberapa metode aquaponik, diantaranya:

1. Deep Water Culture (DWC)

Metode ini disebut juga budidaya berbasis rakitBudidaya ini memanfaatkan rakit busa yang mengambang di saluran air limbah ikan yang telah disaring untuk menghilangkan limbah padat. Tanaman ditempatkan dalam lubang yang terdapat pada rakit, kemudian akarnya menjuntai bebas di air.

Metode ini paling tepat untuk menanam salad sayuran dan tanaman lain yang tumbuh cepat dan bergizi rendah. Metode ini juga paling umum digunakan dalam sistem skala komersial yang lebih besar.

2. Aquaponik Berbasis Media.

Budidaya ini melibatkan media tanam inert, yakni media tanam yang tidak menyediakan unsur hara, seperti pelet tanah liat atau serpihan kerikil. Sebaiknya, pemilihan media tanam menyesuaikan filtrasi biologis (konversi amonia menjadi nitrat) dan filtrasi mekanis (pembuangan limbah padat).

Metode ini sangat bagus untuk diterapkan di ruang yang luas dan juga untuk hobi, karena berbagai jenis tanaman dapat ditanam dengan metode ini. Misalnya, tanaman buah besar, sayuran hijau, rempah-rempah dan varietas lainnya.

3. Nutrient Film Technique (NFT).

Budidaya ini bekerja dengan mengalirkan air yang kaya nutrisi melalui bak sempit, seperti pipa PVC.Tanaman ditempatkan dalam lubang yang dibor di pipa ini, dan akarnya menjuntai bebas dalam aliran air ini.

Metode penanaman ini bekerja sangat baik untuk tanaman yang membutuhkan sedikit dukungan, seperti stroberi dan tanaman herbal lainnya. NFT juga merupakan cara yang bagus untuk memanfaatkan ruang yang tidak digunakan karena mereka dapat digantung di langit-langit di atas area pertumbuhan lainnya.

4. Aquaponik Vertikal.

Budidaya ini dilakukan dengan menumpuk tanaman antar satu sama lain membentuk menara. Air mengalir melalui bagian atas menara, dan mengalir melalui bahan wicking, seperti kapas atau kain flanel, sehingga akar tanaman dapat dengan mudah menyerap air dan nutrisi.

Air kemudian jatuh ke palung atau langsung ke kolam ikan. Bentuk pertanian ini memanfaatkan ruang setiap kaki persegi secara maksimal.

Metode ini cocok untuk sayuran berdaun hijau, stroberi, dan tanaman lain yang ukurannya tidak besar. Metode ini juga sangat baik untuk menumbuhkan tanaman dalam jumlah banyak tetapi di area yang sangat kecil.

Jenis Ikan dan Tumbuhan untuk Aquaponik

gambar dari, thehijau.com

Ikan tawar dan tanaman jenis apa saja sebenarnya bisa dibudidaya dengan aquaponik, asalkan suhu dan pH air sesuai dengan kebutuhan air dan tanaman tersebut. Melansir Nelson and Pade Inc, perusahaan budidaya aquaponik, ada banyak tanaman yang berhasil dibudidaya dengan aquaponik. Misalnya dari jenis sayuran ada selada, paprika, tomat, mentimun, lobak, wortel, kubis, brokoli, dan kembang kol.

Bahkan tanaman kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan kacang polong juga bisa tumbuh. Adapun bunga-bunga juga dapat tumbuh dengan aquaponik, misalnya saja, bunga mawar dan bunga matahari. Selain itu, metode ini juga dapat diterapkan untuk budidaya tanaman tropis, seperti pisang, jeruk, limau, lemon, dan delima.

Penutup

Demikianlah ulasan mengenai aquaponik. Sistem pertanian yang ramah lingkungan sekaligus mengintegrasikan budidaya tanaman dan ikan. Apakah tertarik mencobanya? Semoga berhasil ya.

---------------------

Tulisan Terkait

This post was last modified on Agustus 25, 2020 3:23 am