Halo Sobat Tani, pastinya tau kan ubi jalar? Tanaman satu ini sangat mudah kita temukan di pasar. Selain memang karena lezat rasanya jika diolah menjadi makanan, harganya juga mudah dijangkau. Nah, kali ini sinautani.com akan mengulas teknik budidayanya yang tentunya mudah untuk dilakukan siapa saja. Penasaran? Yuk, simak tulisan berikut ini.

Ubi Jalar di Indonesia

Menurut laman resmi Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 2010, produktivitas ubi jalar oleh petani dalam negeri mencapai sekitar 10 ton / Ha. Padahal, jika budidaya dilakukan dengan teknologi yang tepat, mestinya produktivitasnya bisa lebih dari 30 ton umbi basah / Ha. Selama ini memang budidaya ubi jalar seringnya dilakukan dengan ala kadarnya saja, tanpa memperhatikan teknik yang tepat untuk meningkatkan produktivitasnya.

Produktivitas tersebut dapat ditingkatkan dengan melakukan beberapa hal, terutama dimulai dari penanaman bibit hingga cara menanamnya. Semisal, untuk pemilihan bibit, pilihlah dari varietas yang unggul dengan produktivitas tinggi dan tahan dari hama dan penyakit, seperti penyakit kudis Sphaceloma batatas dan hama boleng Cylas formicarius.

Tahap-tahap Budidaya Ubi Jalar

Budidaya ubi jalar biasanya dilakukan dengan stek, dan cara budidaya itu bisa dikatakan tergolong mudah. Bagi siapa saja dapat melakukannya. Akan tetapi, ada beberapa tahap-tahap yang harus diperhatikan ketika membudidakannya, supaya produktivitasnya meningkat. Apa saja itu? Berikut inilah tahap-tahapnya:

  1. Mempersiapkan Lahan
Mempersiapkan lahan tanam, photo by Jed Owen on Unsplash

Pertama yang mesti dilakukan adalah menyiapkan lahan untuk penanaman ubi jalar. Lahan tersebut harus diolah terlebih dahulu, dan dibikin guludan setinggi 30 – 40 cm dengan lebar 40 – 60 cm. Lalu, antar puncak guludan dibuat jarak antara 80 – 100 cm. Apabila tanah pada lahan itu termasuk tanah berat (berlempung), maka perlu ditambahkan pupuk organik.

  1. Memilih Varietas

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa bibit yang hendak ditanam sebaiknya dipilih dari varietas unggulan. Selain itu, tak kalah penting, stek yang ditanam juga harus berkualitas agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Stek tersebut diperoleh dari pucuk tanaman ubi jalar yang sehat dan normal serta umurnya sudah dua bulan atau lebih.

  1. Mulai Menanam

Sewaktu menanam, sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan sampai pertengahan musim kemarau, atau setelah pemanenan padi. Stek itu dipotong dengan ukuran 20 – 25 cm pada pagi hari menggunakan pisau tajam. Kemudian, agar tidak mengalami penguapan berlebihan, maka potong juga sebagian daun-daunnya.

Ketika menanam, posisikan stek pucuk dalam keadaan tegak atau miring. Lalu, tanam stek sedalam 2 – 3 ruas dalam tanah. Dan, buat jarak antar stek dalam baris antara 20 – 30 cm dengan jumlah tanaman kisaran 33.000 – 55.000 stek / Ha.

Jika dalam sehari ternyata penanaman belum rampung, stek tersebut dapat disimpan dan bertahan selama 1 – 3 hari. Asalkan, dikumpulkan dalam satu ikatan yang maksimal menampung 100 stek.

Di sisi lain, penanaman ubi jalar juga dapat dilakukan secara tumpangsari, dengan naungan tidak boleh lebih dari 30 persen. Apabila stek mati, maka segera lakukan penyulaman selama stek tersebut masih berumur 7 – 10 hari. Akan tetapi, jika lebih maka sudah tidak bisa digunakan lagi.

  1. Memupuk secara Rutin

Sebaiknya, pemupukan dilakukan dengan pupuk kandang karena ramah lingkungan. Akan tetapi, dapat juga dilakukan dengan pupuk buatan. Melansir Kementan, pupuk yang diberikan untuk tanaman ubi jalar diantaranya adalah 100 kg SP36, 100 kg KCL, dan 100 – 200 kg Urea dalam satu hektar.

Khusus pupuk SP36 dan KCL serta Urea, diberikan secara bertahap. Pada minggu pertama masa tanam, berikan 1/3 dosis dulu. Kemudian, sisanya yakni 2/3 dosis, disaat tanaman sudah berumur 1,5 bulan. Selanjutnya, pupuk itu akan diberikan berbarengan dengan pembuatan guludan. Dan, pupuk yang sudah diberikan tadi, lalu ditimbun dengan tanah.

  1. Menyiangi Gulma dan Membalikan Batang

Penyiangan gulma penting untuk dilakukan dalam budidaya ubi jalar, terutama  sebelum pemupukan kedua. Atau, paling lambat berbarengan dengan pemupukan kedua. Kemudian, agar tidak muncul akar dari ruas batang, maka perlu dilakukan perbaikan guludan dan pembalikan batang.

Adapun, jika lahan budidaya ubi jalar baru saja digunakan untuk menanam padi, maka jerami padi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai mulsa, sehingga dapat menekan biaya. Selain itu juga tidak perlu melakukan penyiangan gulma dan pembalikan batang karena adanya gulma tersebut.

Di samping itu, penyiangan pada lahan sawah dapat dilakukan pada saat berumur satu bulan berbarengan dengan turun guludan. Sebaliknya, pada saat sudah berumur dua bulan, guludan dinaikkan berbarengan dengan pemberian pupuk susulan dan penyiangan.

  1. Melakukan Pengairan

Pengairan ini penting untuk dilakukan karena mampu mencegah ubi jalar dari hama boleng Cylas formicarius. Maka, lakukanlah pengairan pada musim kemarau setiap 2 – 3 minggu atau minimal setidaknya tiga kali di masa pertumbuhan.

  1. Mengendalikan Hama
Photo by sohail shaikh on Unsplash

Seperti tanaman pada umumnya, ubi jalar juga dapat diserang hama, seperti penggerek batang Omphisa anastomasalis dan boleng Cylas formicarius serta nematoda Meloidogyne sp. Namun begitu, tentu hama tersebut dapat dikendalikan secara terpadu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Gunakan varietas unggulan yang tahan terhadap serangan hama.
  • Pilihlah stek dari tanaman yang sehat dan normal.
  • Stek yang hendak ditanam dapat dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan insektisida Marshal selama 2 – 3 menit dengan dosis sesuai anjuran.
  • Berikan Furadan 3G pada barisan tanaman secara larikan 5 – 7 cm.
  • Panen yang tepat waktu atau tidak terlambat dapat mengurangi serangan hama.
  • Rotasi tanaman.
  • Pembumbunan dan pengairan yang cukup.
  • Tangkap serangga dewasa jantan dengan seks feromon. Dan, dengan penyemprotan insektisida nabati yang berasal dari ekstrak daun atau biji mimba (Azadirachta indica) dengan konsentrasi 4 persen.
  1. Mengendalikan Penyakit

Selain serangan hama, tak jarang tanaman ubi jalar juga terjangkit penyakit, seperti Kudis (Scab). Penyakit tersebut dapat disebabkan oleh Elsinoe batatas atau cendawan Sphaceloma. Biasanya patogen itu menyerang tanaman ubi jalar di daerah tropis karena lingkungan yang lembab dan curah hujan yang tinggi.

Dampak dari penyakit ini juga mampu menurunkan hasil hingga 30 persen. Bahkan, penyakit tersebut sangat mudah menyebar lantaran berasal dari stek yang sakit dan terus berkembang biak di cuaca yang sejuk bersuhu 13 – 27 derajat celcius.

Kemudian, untuk pengendaliannya seperti pengendalian penyakit tanaman ubi jalar pada umumnya yang utamanya adalah menyempurnakan drainase saat musim hujan dan membersihkan sisa-sisa tanaman (sanitasi kebun). Namun, jika sudah teridentifikasi penyakitnya, maka segera pangkas bagian tanaman yang sakit, lalu bakar.

  1. Pemanenan

Jika ubi sudah tua yang ditandai dengan daun dan batang yang mulai menguning, maka ubi sudah dapat dipanen. Umumnya, di dataran rendah, umur ubi sudah menginjak 3,5 – 4 bulan, dan 3,5 – 5 bulan di dataran sedang, serta 6 – 8 bulan di datarang tinggi. Ketika memanen harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak ubi. Lalu kemudian ubi sudah dapat dikemas untuk disimpan.

Manfaat Ubi jalar

Photo by Louis Hansel @shotsoflouis on Unsplash

Ubi jalar sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung mineral, vitamin A dan C, serta antioksidan. Oleh karenanya, ubi jalar baik bagi kesehatan untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh dan mencegah kanker. Bahkan, tanaman ini juga dapat dijadikan pakan ternak.

Sedangkan dalam industri makanan, tentu sudah umum jika bahan bakunya berasal dari tepung atau pati yang berasal dari olahan ubi jalar. Sebut saja mulai dari aneka jenis, mie, kue dan es krim yang semuanya berbahan baku tepung dan pati olahan ubi jalar.

Penutup

Demikianlah ulasan sinautani.com mengenai teknik budidaya ubi jalar beserta manfaatnya. Tentu mudah bukan untuk dilakukan? Selamat Sobat Tani mencobanya dan semoga berhasil ya!

---------------------

Tulisan Terkait

This post was last modified on Agustus 19, 2020 5:32 am