Halo Sobat Tani, pernahkah melihat tanaman porang? Tanaman umbi-umbian ini tengah ramai dibincangkan oleh masyarakat. Bermula dari boomingnya kesuksesan petani porang di Jawa Timur. Dia mampu meraup keuntungan hingga miliaran rupiah dari ekspor tanaman itu. Nah, kali ini sinautani.com akan mengulas budidaya porang dan manfaatnya. Simak ulasannya ya.

Porang, Tanaman umbi-umbian

Bernama latin Amorphophallus muelleri, porang atau dikenal juga iles-iles termasuk jenis tanaman umbi-umbian. Tanaman ini mudah tumbuh di berbagai jenis tanah dengan ketinggian 0 sampai 700 mdpl dan tingkat keasaman antara 6-7 pH. Di lahan hutan, tanaman porang mampu tumbuh di bawah naungan tanaman lainnya. Bahkan, tanaman itu membutuhkan naungang tegakan tanaman lain minimal 40 persen. Biasanya, pohon mahoni dan jati yang menjadi naungan untuk tanaman porang.

Dalam perkembangannya, belum banyak yang membudidayakan porang. Hingga sekarang, kebutuhan terhadap tanaman itu masih berasal dari hutan.

Padahal di beberapa daerah di Indonesia, seperti Maros, Bandung, Wonogiri, Madiun, dan Pasuruan, tanaman ini memiliki nilai tambah dengan diolah menjadi tepung porang.

Budidaya Porang

Dalam budidaya porang, biasanya bibitnya yang ditanam. Bibit porang berasal dari umbi katak (bubil) atau umbi yang sudah memiliki titik tumbuh maupun potongan umbi batang yang ditanam secara langsung. Berdasarkan bibitnya, berikut ini cara mengembangbiakan porang:

  1. Umbi Katak

Menempel di pangkal atau tangkai daun porang, umbi katak berbentuk bintil dengan warna coklat kehitaman. Pada masa panen, umbi katak untuk budidaya dikumpulkan. Lalu, memasuki musim penghujan, katak tersebut ditanam pada lahan yang sudah disiapkan.

  1. Umbi Batang

Tanaman porang yang sudah terlalu rapat perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan tersebut akan diperoleh umbi batang yang berukuran kecil. Kemudian, umbi-umbi tersebut dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai bibit. Sedangkan, umbi batang berukuran besar, dipecah-pecah terlebih dahulu sesuai ukuran lubang tanam bila hendak dibudidayakan.

  1. Biji atau Buah

Sebenarnya, selain dengan bibit, budidaya porang dapat juga dilakukan dengan biji atau buah yang berasal dari bunga. Porang biasanya akan berbunga setiap empat tahun sekali. Sedangkan dari satu tongkol buahnya dapat diperoleh sekitar 250 butir biji. Biji tersebut nantinya dapat ditanam dengan cara disemaikan  terlebih dahulu.

Bibit porang ini bisa didapatkan secara online di kebunporang.com

Langkah-langkah Menanam Porang

Berikut ini, langkah-langkah menanam porang yang dibagikan Paidi, petani sukses eksportir porang, kepada gdm.id.

  1. Persiapkan Lahan

Utamakan lokasi untuk budidaya porang di lahan yang mempunyai naungan pepohonan. Hal itu agar intensitas sinar matahari yang mengenai porang tidak berlebihan. Di lahan terbuka, sebenarnya tetap bisa ditanam porang asalkan dibikin naungan seperti paranet.

Selanjutnya, lakukan beberapa hal berikut:

  • Lahan harus dikondisikan bersih dari gulma dan sisa tanaman apapun.
  • Apabila lahan budidaya luas, maka bikin setiap 4 ha menjadi 1 blok. Lalu, bikin juga jalan pemeriksaan untuk batas balok selebar 2 m.
  • Pasang ajir baik untuk untuk budidaya dengan umbi katak atau umbi batang, dengan jarak 1 m x 1 m.
  • Buat lubang tanam dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm dengan jarak antar lubang 1 m x 1 m.
  • Supaya hasil maksimal, berikan pupuk dasar pada lubang tanama sebelum bibit porang hendak ditanam.
  1. Cara Menanam Porang

Bibit yang sudah disiapkan kemudian ditanam ke dalam lubang tanam dengan posisi bakal tunas menghadap ke atas. Adapun menanam porang paling disarankan dilakukan ketika musim hujan, sekitar bulan November-Desember.

  1. Pemupukan

Supaya mendapatkan hasil maksimal, tanaman porang perlu diberi pupuk, utamanya pupuk kandang. Pemupukan dilakukan secukupnya pada sebelum tanam dan sesudahnya.

  1. Perawatan

Seperti tanaman lain pada umumnya, perawatan juga perlu dilakukan terhadap tanaman porang. Yakni, salah satunya dengan melakukan penyiangan gulma. Karena bila gulma dibiarkan, akan mengganggu tumbuh kembang porang dengan mengambil kebutuhan air dan unsur haranya.

Penyiangan sebaiknya dilakukan secara rutin mulai setelah tanaman umbi porang ditanam. Gulma yang sudah disiang dapat dijadikan pupuk organik dengan menimbunnya ke tanah yang ditanami umbi porang.

  1. Hama dan Penyakit

Porang biasanya dapat diserang hama belalang, ulat, dan nematode. Sedangkan penyakit yang menyerangnya, diantaranya adalah daun layu karena jamur dan busuk batang semu.

Tak jarang juga, landak, tikus, dan babi hutan ikut memakan porang. Akan tetapi, tingginya kandungan kalsium oksalat pada tanaman itu dapat menyebabkan gatal pada lidah dan kerongkongan maupun muntah jika dikonsumsi mentah.

  1. Pemanenan

Dua tahun setelah ditanam, porang dapat mulai dipanen. Pilih tanaman porang yang daunnya sudah mengering dan jatuh ke tanah. Umbi besar yang beratnya lebih dari 1 kg yang dipilih untuk dipanen. Sedangkan umbi-umbi yang kecil ditanam kembali untuk dipanen pada tahun berikutnya.

Adapun, porang yang sudah dipanen dapat dipanen kembali setahun berikutnya, tanpa harus menanam umbinya dari awal. Biasanya, satu tanaman porang mampu menghasilkan 2 kg umbi. Apabila umbi sudah dipanen, maka bersihkan umbi tersebut dari tanah dan akar. Lalu potong dan jemur umbi itu supaya mendapatkan porang dan kualitas bagus. Tentunya dalam memotong umbi ini harus benar.

Manfaat Porang

Manfaat porang sejatinya sangat banyak sekali, diantaranya dimanfaatkan untuk bahan lem, penjernih air, dan kosmetik serta bahan baku tepung. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, porang diekspor ke Jepang untuk bahan baku membuat jelly.

Melansir laman resmi Kementerian Pertanian, umbi porang mengandung glucomannan, serat alami yang larut dalam air biasa, dengan kadar yang banyak dalam bentuk tepung. Kandungan itu dapat dimanfaatkan sebagai aditif makanan, seperti emulsifier dan pengental. Selain itu, umbi tersebut juga dapat dibikin menjadi lem ramah lingkungan serta komponen pesawat terbang.

Dimuat dalam laman itu juga, porang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, salah satunya potensi ekonomi. Tercatat pada tahun 2018, ekspor porang sebanyak 254 ton dengan nilai ekspor sebesar 11,31 miliar rupiah. Pangsa pasarnya juga makin meluas dari Jepang, Tiongkok, Australia, Vietnam dan beberapa negara lainnya.

Penutup

Demikian ulasan mengenai budidaya porang dan manfaatnya. Bagi Sobat Tani yang ingin mencobanya, perhatikan langkah-langkah yang sinautani.com bagikan untuk meminimalisir kegagalan budidaya. Semoga berhasil ya!

---------------------

Tulisan Terkait

This post was last modified on Agustus 3, 2020 5:30 pm